Seringkali umat Islam disuguhkan dengan berbagai macam film dan adegan di luar batas nalar dan kemampuan manusia. Misalnya, film seorang kiyai bisa terbang dengan sajadah. Tasbihnya bisa meledak layaknya granat. Atau, di sudut-sudut pasar tradisional sering ada tontonan aksi-aksi akrobatik yang cukup memacu adrenalin. Misalnya, menyembelih orang. Tetapi anehnya yang disembelih tetap hidup. Dan biasanya, orang yang memperagakannya berpakaian ala kiyai, berjuah serba putih dengan tasbih ditangan.
Ajaibnya, semua pelaku mengaku; seluruh
kemampuan itu atas izin Allah, dan diawali amalan-amalan sperti dzikir, puasa
dan seabrek amalan-amalan ‘islami’ lainnya.
Orang Jawa menyebutnya sebagai ‘ngelakoni’.
Orang Jawa menyebutnya sebagai ‘ngelakoni’.
Sesuatu yang terjadi di luar kemampuan manusia,
pada umumnya bisa dikategorikan dalam tiga hal; tanda kenabian (mukjizat),
karamah dan permainan setan.
Ada sebagian umat Islam meragukan keberadaan
karamah, seperti Mu’tazilah. Menurut mereka, karamah itu hanya ilusi. Tidak
nyata.
Sebaliknya, ada juga kelompok umat Islam yang
terlalu berlebih-lebihan dalam menyikapi karamah. Yaitu orang-orang sufi, para
penyembah kubur. Mereka menetapkan karamah pada seseorang tanpa melihat keadaan
dan aqidah pelaku.
Sikap yang biajak berkenaan dengan karamah
adlah apa yang diyakini oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah. Yaitu, karamah adalah
anugerah dari Allah kepada hamba-hambaNya yang shalih. Dr. Shalih al-Fauzan
berkata, “jiak sesuatu yang terjadi di luar kemampuan manusia itu terjadi pada
seorang nabi Allah, maka itu adalah mukjizat seperti Nabi Musa bisa
menghidupkan kematian…sedangkan jika kejadian di luar kebiasaan ini terjadi
pada orang-orang shalih maka ini diseut dengan karamah.
Banyak hikmah yang diinginkan dari penampakan
karmah pada wali-wali Allah SWT. Bisa menjadi bukti membuktikan keshahihan dan
kebenaran yang dijalani oleh hamba tadi, aik berupa amal atau aqidahnya.
Seperti kisah kuburan seorang syuhada Afghanistan, dikisahkan setiap malam
senin dan kamis, dari kuburannya keluar cahaya yang sangat terang menuju ke langit.
Atau bisa jadi itu sebagai sarana dari Allah
untuk membantu hamba yang shalih tersebut. Dalam hadits, Rasulullah SAW
menceritakan karamah yang Allah anugerahkan kepada tiga orang yang terkurung
dalam gua. Pintu gua tertutup oleh batu besar. Lalu Allah membukakan pintu gua
itu, sehingga mereka bisa keluar.
Antara
Mukjizat dan Karamah
Karamah berbeda dengan mukjizat. Mukjizat
terjadi pada nabi sedangkan karamah terjadi pada orang-orang shalih. Selain
itu, karamah terjadi pada semua orang shalih, baik laki-laki maupun perempuan,
merdeka maupun budak. Sedangkan mukjizat tidak terjadi kecuali pada seorang
nabi atau rasul yang tentu saja nabi atau rasul adalah laki-laki dan bukan
budak. Titik persamaan antara keduanya adalah sama-sama di luar kemampuan manusia.
Antara
Karamah dan Permainan Setan
Ada satu keadaan yang mirip dengan karamah.
Karena sama-sama terjadi di luar kebiasaan dan kemampuan manusia, yaitu ahwal
ayaithaniyah, tipu daya setan. Seperti kemampuan erjalan diatas air, terbang
dan berada di dua tempat dalam satu waktu. Biasanya ini terjadi pada wali-wali
setan. Berikut perbedaan antar keduannya;
- Karamah wali Allah berasal dari keimanan dan ketakwaan, sedangkan keleihan wali syetan bersumber dari hal-hal yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.
- Karamah tidak dapat dipelajari. Akramah terjadi bukan dengan kehendak atau permintaan. Sebab, karamah adalah pemberian Allah kepada wali-Nya pada saat-saat yang tidak ditentukan. Sedangkan permainan setan dapat dipelajari, bahkan diwarisi. Seperti ilmu kebal, pukul jarak jauh atau yang lainnya. Tentunya dengan melakukan amalan-amalan khusus.
- Karamah berasal dari Allah SWT dan penyebabnya adalah ketaatan. Yaitu, dikhususkan pada orang-orang istiqamah erpegang pada syariat Allah.
Dari sini bisa disimpulkan, tidak selamanya
peristiwa yang terjadi di luar kemampuan manusia itu adalah karamah sebagaimana
anggapan orang-orang jahiliah. Al-Imam Asy-Syafi’I berkata, “Apabila engkau
melihat seseorang berjalan di atas air atau terbang di udara, janganlah engkau
mempercayainya dan janganlah engkau tertipu olehnya sampai engkau mengetahui
sejauh mana komitmennya untuk mengikuti ajaran Rasullulah.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar